Tujuh orang sahabat tengah merencanakan liburan anti mainstream setelah menjalani hari-hari yang begitu melelahkan saat ujian sekolah. Mereka membahasnya di bangku depan kelas, di bawah pohon mangga yang sebentar lagi buahnya bisa dipanen.
Lima perempuan dan dua laki-laki itu tengah berunding dengan serius diselingi candaan. Mereka semua random dari berbagai kelas. Entah bagaimana mereka dipertemukan sehingga menjadi orang yang sulit terpisahkan. Isirahat bareng, belajar bareng, main juga bareng.
“Jadi, keputusannya mau kemana?” tanya salah satu dari mereka. Namanya Rama. Dia adalah orang yang paling ngga bisa kalau pulang lama-lama. Ada banyak kerjaan yang harus dikerjakan di rumah.
“Daerah pegunungan atau pantai? Plis jangan pantai. Udah sering banget kita.” ucap salah satunya. Seseorang bernama Ani memberikan pendapatnya. Seketika, 3 orang lainnya juga mengangguk tanda setuju.
“Sebenarnya nonton film doang juga seneng banget. Tapi, tempatnya dibedakan. Jangan di dalam kelas, jangan di rumah salah satu dari kita.” usul Tika. Perempuan pintar yang kalem, tapi bisa jadi receh kalau sama gerombolan ini.
“Guys, aku ada usul nih. Di perbatasan kabupaten sebelah, ada air terjun di pegunungan yang bagus banget. Tempatnya masih belum banyak diketahui orang. Gimana kalau kita kesana aja? Jadi nih rencananya digabungin sama usul Tika tadi.” usul Triyo. Laki-laki yang selalu bisa bikin ramai suasana.
“Hah? Nonton film disana?” tanya Lian. Perempuan lemah lembut yang suka menggambar.
“Menarik banget sih ini, tapi laptop siapa nih yang mau dibawa kesana?” tanya Pita. Perempuan yang kadang selalu ngga enakan sama orang lain. Baik juga hatinya.
“Yups, kita nonton disana. Laptopku aja, it’s oke.” jawab Triyo dengan santainya.
“Jadi, kapan nih dieksekusi? Apa aja yang harus dibawa? Mekanismenya gimana? Kamu udah pernah kesana belum, yo? Ceritain dulu dong biar ada gambaran.” tanya seorang perempuan bernama Rili. Dari tadi ia diam menyimak kini angkat bicara dan langsung memberondongn dengan beberapa pertanyaan.
“Menurutku sabtu aja. Minggu bisa buat istirahat.” Rama menyeletuk.
“Mekanisme apaan dah. Dikira mau pendaftaran kuliah? Jadi nih kan misalnya berangkat sabtu pagi, kumpul di sekolah, kita naik bus dari alun-alun pakai baju pramuka. Kalau pakai baju anak sekolah kan biayanya lebih murah, hehe. Nah sampai sana kita langsung ganti baju. Terus langsung ke air terjuannya.” kata Triyo. Ia menghentikan sejenak ucapannya untuk minum. Kemudian melanjutkannya lagi.
“Aku pernah kesana tapi dulu waktu SMP. Mungkin sekarang ya tempatnya udah sedikit bagus. Makanya yuk kesana aja. Udah pasti segar, sambil nonton film juga.” lanjut Triyo.
“Oh iya, satu lagi. Seksi konsumsi jangan lupa persiapannya ya.” kata Triyo sambil melirik Ani.
“Siap, aman. Asal ada fee nya dulu. Hahaha.” jawab Ani.
“Jadi udah fix nih ya. Ya udah aku pulang dulu. Boleh ngga nih?” tanya Rama yang berdiri sambil memakai jaket.
“Duluan aja gih, bentar lagi kita nyusul ke parkiran.” kata Tika.
“Oke. Duluan ya.” Rama yang sudah memakai jaket pun langsung pergi. Sampai di belokan samping kamar mandi, Triyo berteriak.
“Awas di parkiran ada sesuatu loh. Hati-hati aja dah. Haha.” Triyo mencoba menakut-nakutinya.
“Awas noh jangan kesorean disitu. Hati-hati aja di bawah pohon.” Rama membalasnya.
“Larii!” Triyo tiba-tiba lari begitu saja. Tentu saja yang lain ikutan kaget dan berlari. Kebiasaan sekali si Triyo ini, suka bikin ramai.
Mereka pun pulang bersama. Sampai lupa ada yang tertinggal.
Tiga jam kemudian..
“Eh, sumpah ya tadi sebel banget aku ditinggalin. Kalian semua melupakanku! Huhu.” ketik Lian di room whatsapp grup tujuh bersahabat itu.
“Lah salah siapa ke kamar mandi ngga bilang-bilang. Pasti niatnya pas balik mau ngagetin ya? Eh malah kena sendiri tuh. Ditinggalin. Hahaha.” Triyo meledeknya.
“Ngga lah. Aku tuh cuma ngga mau ngrepotin kalian buat nemenin. Biar kalian fokus aja rapat liburannya.” balas Lian.
“Maaf banget lii. Kita juga ngga tau kalau kamu ketinggalan. Soalnya pas sampai parkiran, pak satpam udah negur juga suruh balik cepet. Si Rama juga udah balik duluan. Aku inget kamu pas sampai rumah tadi, sadar kalau kamu ngga ada di rombongan pulang. Huhu.” balas Ani lima menit setelahnya dengan emoticon sedih.
“Ya udah iya, gapapa kok.” balas Lian yang masih merasa makan hati.
Setelah itu, grup kembali sepi. Biasanya yang lain kalau belum muncul di grup berarti masih berkutat mengerjakan pr.
***
Perjalanan dimulai. Tujuh sahabat itu memulainya dengan doa bersama. Kemudian, mereka bertujuh naik bus dari alun-alun. Sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai. Terlebih dahulu mereka mengganti baju di kamar mandi musholla dekat jalan raya.
Perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Disusurinya jalan setapak yang perlahan mulai menanjak. Dari yang tadinya diisi cerita dan candaan hingga mulai berkata lelah karena tas yang dibawa juga berat. Tapi, itu tidak menyurutkan semangat.
Mereka tetap berjalan melewati rumah warga sampai benar-benar memasuki hutan yang sesungguhnya. Tak dilewatkan begitu saja, foto bersama menjadi hal yang mutlak. Berbagai pose dilakukan di rumput, bawah pohon, atas kayu, baik sendiri maupun bersama-sama.
Setelah puas dengan satu tempat, mereka melanjutkan perjalanan kembali. Jalanan sudah tidak terlalu menanjak. Kini mulai berkelok-kelok, melewati jembatan kecil yang di bawahnya dialiri sungai, dan disitulah indahnya pemandangan.
Sesekali ada orang tua yang lewat dengan memikul kayu, ada juga para remaja yang sedang duduk-duduk di bawah pohon. Mereka semua sangat ramah, sapaan-sapaan disambut dengan baik. Sampai di air terjun, semua lelah terbayarkan. Ketujuh sahabat itu langsung bermain air hingga makan bersama. Rencananya setelah itu, mereka akan menonton film bersama dari atas puncak pegunungan.
Tapi, di balik itu semua mereka tidak menyadari ada sesuatu yang sedang mengintai dari kejauhan.
***
“Beneran ilang!” ucap Triyo yang membuat keenam temannya langsung ikutan panik.
“Hah? Kok bisa? Tadi kamu taruh di mana?” tanya Rili yang masih di bawah tebing bersama Rama. Sedangkan Ani, Pita, Lian, dan Tika yang sedang mendaki ke atas, langsung mempercepat langkahnya menyusul Triyo.
“Tadi aku taruh di atas sini. Terus kan aku langsung turun buat bantu kalian ngangkatin tas lain ke atas. Pas aku balik udah ngga ada.” ucapnya sedikit keras karena jaraknya juga cukup jauh.
“Tika, Lian, bisa turun bentar ngga? bantuin aku sama Rama naik!” teriak Rili dari bawah.
Tika dan Lian yang sudah berada di atas untuk mengecek lokasi kehilangan pun langsung balik ke bawah lagi. Sementara Ani dan Pita membantu Triyo untuk mencari tas yang hilang. Mereka berjalan ke arah utara karena disana ada seorang bapak yang sedang mengecek lokasi pengambilan air. Dengan harapan bapak itu melihat tas yang dicari.
Anehnya, bapak yang ditanya oleh Triyo selalu menjawab tidak tahu. Sedangkan Triyo pun tidak diperbolehkan mengecek bangunan kecil untuk pengambilan air tersebut. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan?
Setelah dibantu untuk naik, Rili dan Rama ikut berpencar mencari tas tersebut. Ketujuh orang itu panik karena di dalam tas ada baju, buku, dan laptop! Dalam keadaan yang genting ini, keenam sahabat itu menguatkan Triyo untuk sabar dan tetap berusaha mencari tas sampai ketemu.
Lama berpencar di sekitar lokasi, Rili dan Tika memutuskan untuk mencari bantuan ke warga. Mereka pun tak mungkin lewat jalan tadi dengan turun ke bawah, terlalu lama. Mereka berlari ke selatan. Namun, tak ada jalan yang biasa dilalui warga. Keputusan terakhir dan menegangkan, akhirnya mereka langsung merosot dari atas ke bawah demi sebuah persahabatan. Beruntungnya mereka selamat.
Setelah memotong jalan yang panjang, Rili dan Tika berlarian dengan napas terengah-engah menuju kampung. Warga pun mengabarkan ke yang lain hingga berita itu menyebar dengan cepat supaya semua perbatasan dijaga untuk mencegah maling keluar.
Rili dan Tika kembali menyusul temannya ke hutan. Mereka merasakan lelah yang begitu sangat hingga kakinya terasa tidak lagi mau melangkah. Mereka masih tidak percaya akan kejadian yang di luar dugaan ini layaknya sinetron.
Kegiatan pencarian masih terus dilakukan. Bahkan ketua RT ikut turun langsung. Namun, sampai sore hingga hujan turun, tas itu masih belum ditemukan. Pencarian terpaksa dihentikan dan mereka semua disuruh untuk ke rumah pak RT.
Hujan tak kunjung reda, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mereka bertujuh terpaksa harus pulang setelah perjuangan panjang. Kalau tidak pulang jam segitu, biasanya bus sudah tidak lagi melintas.
“Besok kita bantuin kamu buat cari laptopnya lagi. Warga desa juga pasti bantuin. Kamu tenang dulu, berdoa sama Allah supaya bisa ditemukan.” kata Rama menenangkan, padahal dia pun merasa sangat sedih atas kejadian ini. Begitu juga dengan yang lainnya.
Ketujuh sahabat itu pulang tanpa merealisasikan impian menonton film bersama di puncak pegunungan. Tapi, mereka pulang membawa persahabatan yang semakin erat.
Aku nulis ini sambil gemetar sedikit. Mungkin ini adalah efek dari obat-obatan. Ya, aku memang…
Sekitar awal abad ke-21, kelahiranku menambah populasi bumi. Rumah itu awalnya sepi. Ramai pun membujuk…
Persahabatan adalah permata yang menghiasi keseharian. Membuatmu tak merasa sendirian, maupun takut kesepian. Di masa…
Hidup ini bisa membosankan kalau tidak ada perbedaan kegiatan. Kamu yang memiliki setumpuk pekerjaan kantoran,…
Rinduku pada diriku yang dulu tidak pernah memupus. Semua hal yang kulakukan selaras dan teratur.…